Peserta Lomba Menulis Essay Tingkat Nasional dalam Program Indonesian Students Camp 2021 Di Universitas Indonesia Jakarta

Spread the love

Judul Essay:
Optimalisasi Praktik Wirausaha Berbasis Digital Melalui Pendidikan Formal Untuk Menanggulangi Kemiskinan Di Indonesia

Ditulis Oleh Nur Afrida
Dibimbing oleh Albert Efendi Pohan
Penanggung jawab Endah Kumala Sari
Pengarah Kepala Sekolah

Permasalahan kemiskinan di Indonesia yang kian memprihatinkan harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah pusat dan pemerintah daerah, khususnya bagi kalangan pendidik. Sejak tiga tahun terakhir data menunjukkan bahwa jumlah angka kemiskinan terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2020 angka kemiskinan meningkat sebanyak 0.56 % dari tahun sebelumnya. Sehingga jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 26.42 juta orang atau setara dengan 9.78% dari jumlah penduduk Indonesia. Kondisi ini tentu sesuatu yang sangat mengiris hati kita semua, dimana negara belum bisa mengantarkan seluruh rakyat Indonesia ke dalam pintu gerbang kemerdekaan ekonomi dan kesejahteraan. Begitu juga para pembaca tulisan ini tidak merasa bahwa kondisi di atas merupakan bagian dari tanggung jawabnya. Kondisi ini adalah sesuatu yang sangat tidak wajar jika kita melihat alam Indonesia yang sangat kaya dan serba ada.

Beberapa faktor penyebab terjadinya lonjakan angka kemiskinan adalah meningkatnya jumlah pengaguran di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Agustus tahun 2020 mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 9.77 juta orang. Angka ini mengalami kenaikan yang sangat drastis dari tahun sebelumnya sevbanyak 2.67 juta. Kondisi ini terjadi karena jumlah tenaga pencari kerja tidak seimbang dengan lapangan pekerjaan yang tersedia di lapangan. Disamping itu, peningkatan angka kemiskinan ini tentu diakibatkan oleh Pandemic Covid-19 yang berdampak terhadap stabilitas ekonomi Indonesia secara nasional.

Permasalahan di atas menimbulkan berbagai permasalah aktual, bakhan tragis di berbagai lini kehidupan di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Seperti banyak siswa yang putus sekolah akibat tidak mampu membayar biaya sekolah. Tidak terjamin pemenuhan gizi anak Indonesia dan pemenuhan kesehatan. Banyak orang tua siswa yang kehilangan pekerjaan dan pendapatan. Kondisi ini dalam jangka waktu tertentu akan mempengaruhi kualitas generasi Indonesia sebagai investasi penunjang kemajuan Indonesia ke depan. Untuk itu, pemecahan persoalan ini harus dilakukan dari hal mendasar secara bersama dan secara berkelanjutan dengan kerjasama yang sinergis antara pemerintah, instansi Pendidikan, dan masyarakat.

Dalam konteks ini, penulis akan membahas solusi yang penulis anggap perlu dipertimbangkan oleh pembaca untuk menanggulangi angka kemiskinan di indonesia melalui Pendidikan. Adapun solusi yang penulis maksud adalah sebagai berikut:

1. Mereformasi mental siswa-siswi
Tidak bisa dipungkiri bahwa motivasi yang senantiasa dibisikkan guru-guru kepada kami di sekolah adalah bagaimana menjadi orang yang sukses dengan mendapat kesempatan kerja yang bergengsi, seperti menjadi pegawai negeri sipil, bekerja di perusahaan besar, menjadi tenaga kerja ke luar negeri dan di instansi pemerintah lainnya. Sehingga hal ini membentuk pola pikir siswa sebagai pencari kerja, bukan pencipta lapangan kerja. Dari sinilah benih-benih permasalah kemiskinan dan penderitaan rakyat Indonesia. Pemahaman yang meracuni pikiran siswa-siswi adalah kesempatan mendapat pekerjaan dengan gaji ala kadarnya. Tidak berpikir bagaimana mengoptimalkan peluang untuk membuka lowongan pekerjaan. Untuk itu, sudah waktunya meskipun sebenarnya sudah terlambat untuk melakukan reformasi pemikiran siswa-siswi melalui pembelajaran bahwa kemerdekaan ekonomi diperoleh dengan berwirausaha. Guru-guru harus menanamkan prinsip ini kepada siswa-sisiwa agar begitu tamat sekolah tidak langsung mengemis ke perusahaan-perusahaan untuk diberikan kerjaan dengan gaji pas-pasan. Melainkan mengkaji kondisi masyarakat untuk dijadikan sebagai peluang berwirausaha.

2. Merancang kurikulum yang produktif
Selanjutnya, sekolah harus merancang kurikulum yang berbasis kewirausahaan dan nilai-nilai produktifitas setiap mata pelajaran. Guru harus merancang setiap materi pembelajaran agar menjelaskan kesempatan untuk berwirausaha melalui sosial media. Pembelajaran tidak hanya agar siswa bisa menjawab soal ujian. Tapi guru harus mendorong dan menunjukkan jalan yang lurus kepada siswa untuk bisa melihat peluang dan memanfaatkan ilmu yang dipelajari untuk berwirausaha. Hal ini dapat dilakukan dengan mengaitkan seluruh materi pembelajaran dengan praktik-praktik wirausaha digital ataupun manual.

3. Mengubah Haluan paradigma Pendidikan
Dalam bagian ini, Pendidikan harus mampu melihat hal yang paling mendasar sebagai kebutuhan siswa setelah tammat untuk bisa hidup dan menghidupi serta mengatur kehidupannya. Maka sekolah bukanlah hanya bertanggung jawab meluluskan dengan perolehan izajah melainkan kecakapan hidup yang terlatih selama sekolah, bukan setelah tamat sekolah. Sekolah harus mengubah paradigma syarat kelulusan dengan menguasai pengetahuan belaka. Sekolah harus menerapkan syarat kelulusan siswa dengan keterampilan berwirusaha dan sudah memiliki usaha sendiri baik secara digital maupun manual sebelum tamat sekolah.

4. Memfasilitasi praktik wirausaha secara digital
Pemerintah pusat harus memfalilitasi siswa untuk berwirausaha sejak duduk dibangku SMA sederajat. Hal ini jauh lebih penting dari pada memberikan beasiswa yang ujung-ujungnya menjadi sarjana pengemis kerjaan yang tidak bermartabat.

Dengan menerapkan langkah-langkah di atas, penulis secara optimis berkeyakinan bahwa permasalah kemiskinan di Indonesia dapat diatasi sejalan dengan memecahkan permasalahan pengangguran yang dimulai dari pemecahan akar permasalahan. Pengangguran akan berkurang jika pencari kerja berkurang karena sudah memiliki usaha sendiri, maka secara otomatis hal ini akan menekan angka kemiskinan menjadi sedikut.